Bab 10: Manusia dan Kegelisahan

10.1. Pengertian kegelisahan
Kegelisahan merupakan gambaran seseorang yang tidak tenteram hali maupun perbuatannya, merasa khawatir, tidak tenang maupun tidak sabar.

Menurut Sigmund Freud, terdapat tiga macam kecemasan yang dapat menimpa manusia, yaitu:
a. Kecemasan obyektif
Kecemasan tentang kenyataan adalah pengalaman perasaan sebagai akibat dari suatu pengamatan atau suatu bahaya dari dunia luar. Pengalaman bahaya dan timbulnya kecemasan mungkin merupakan bawaan, manusia mewarisi kecenderungan untuk takut apabila ia berada dekat dengan benda atau keadaan tertentu.

b. Kecemasan neurotis
Kecemasan ini timbul karena pengamatan tentang bahaya naluriah. Menurut Sigmund Freud, kecemasan ini dibagi menjadi tiga macam.
– Kecemasan akibat dari penyesuaian diri. Kecemasan ini terjadi pada orang yang selalu grelisah an berpikir bahwa sesuatu yang hebat akan terjadi.
– Bentuk ketakutan yang tegang dan irasional (phobia). Bentuk khusus dari phobia adalah banwa intensitas ketakutannya melebih proporsi yang sebenarnya dari objek yang ditakutkan.
– Rasa takut yang berupa rasa gugup, gagap, dan sebagainya. Reaksi ini merupakan perbuatan untuk meredakan diri agar membebaskan seseorang dari kecemasan neurotis dengan melakukan hal yang dikehendaki id meskipun ego dan superego melarang.

c. Kecemasan moril
Kecemasan moril disebabkan karena pribadi seseorang. Setiap orang memiliki bermacam-macam emosi seperti iri, benci, dendam, dengki, marah, gelisah, cinta, rasa kurang. Sifat-sifat seperti itu dapat mngakibatkan manusia merasa khawatir, takut, cemas, gelisah, dan putus asa.

10.2. Sebab-Sebab Orang Gelisah
Pada hakekatnya, orang merasa gelisah karena takut akan kehilangan hak-haknya. Hal ini adalah akb=ibat dari ancaman dari luar maupun dalam.
Contoh: bila ada suatu tanda bahaya, seperti bahaya banjir, gunung meletus dan sebagainya, tentu orang akan panik. Ini karena, bahaya terdebut akan mengancam beberapa haknya sekaligus seperti hak hidup, hal milik, dan sebagainya.

10.3. Usaha-usaha mengatasi kegelisahan
Untuk mengatasi rasa gelisah, kita harus mulai dari diri sendiri dengan bersikap tenang. Dengan sikap tenang, kita akan bisa lebih berpikir tenang sehingga segala kesulitan dapat diatasi. Kita juga perlu melakukan introspeksi. Kita perlu menanyakan pada diri sendiri apa akibatnya apabila kita tidak bisa mnegatasi rasa cemas sehingga bisa mempersiapkan diri untuk mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Kita juga bisa berusaha untuk mengurangi dan memperkecil keburukan –keburukan akibat timbulnya kecemasan sehingga kita tidak akan lagi merasakan kegelisahan.

Contoh: dokter merasa panik ketika isrti dan anaknya sakit. Dalam hal ini seharusnya dokter tersebut harus bersikap seperti sedang menghadapi pasien yang bukan keluarganya.

10.4. Keterasingan
Keterasingan berarti hal-hal yang berkenaan dengan tersisihkan dari pergaulan, terpencil, atau terpisah dari yang lain.
Surat Al-Quran tentang keterasingan yaitu surat Al-Imran ayat 19, pada ayat ini dijelaskan jika ada yang kafir terhadap ayat-ayat Al-quran maka Allah akan menghisabnya, dimana surat Al-Imran ayat 19 yang artinya:
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya”.

10.5. Kesepian
Kesepian dapat diartikan sebagai perasaan sunyi atau lengang, tidak berteman.

Terdapat beberapa sebab kesepian. Frustasi dapat menyebabkan kesepian karena orang yang frustasi biasanya tidak mau diaganggu dan lebih senang hidup sendiri. Keterasingan juga dapat menyebabkan rasa kesepian. Keterasingan adalah sebagai akibat dari sikap sombong, angkuh, kaku, keras kepala sehingga dijauhi teman-temannya. Orang yang rendah diri biasanya suka menyendiri dan ini bisa menyebabkan kesepian juga.
Contoh: pangeran Sidharta, putra Raja Kapilawastu, meninggalkan istana, tempat kemewahan, kereamaian, dan ketidakpastian. Ia melakukannya karena tidak tahan dengan situasi istana yang penuh kontradiksi dan karena menyaksikan keadaan luar istana yang penuh penderitaan. Ia ingin mrncari hakekat hidup.

10.6. Ketidakpastian
Ketidakpastian berarti keadaan yang tidak pasti, tidak tentu, tidak tahu dan keadaan tanpa arah yang jelas.
Contoh: Ketidakpastian menunggu hasil ujian sarjana membuat seseorang menjadi gelisah.

Beberapa sebab seseorang tidak bisa berpikir dengan pasti:
a. Obsesi: adanya pikiran atau perasaan tertentu adanya pikiran atau perasaan tertentu yang terus menerus biasanya tentang hal yang tidak menyenangkan atau sebab-sebabnya tak diketahui oleh penderita.
b. Phobia: rasa ketakutan yang tidak terkendali terhadap suatu hal atau kejadian.
c. Kompulsi: adanya keraguan tentang apa yang dilakukan, sehingga ada dorongan untuk melakukan perbuatan tersebut berkali-kali.
d. Histeria: adalah neurosa jiwa yang disebabkan oleh tekanan mental, kekecawaan, pengalaman pahit yang menekan, kelemahan syaraf, tidak mampu menguasai diri, dan sugesti dari sikap orang lain.
e. Delusi: menunjukkan pikiran yang tidak beres karena berdasarkan suatu keyakinan palsu. Terdapat tiga mecam delusi. Yaitu delusi persekusi (menganggap keadaan sekitarnya jelek), delusi keagungan (menanggap diri sebagai orang yang penting dan besar) dan delusi melankolis (merasa dirii salah berdosa, hina).
f. Halusinasi: khayalan yang terjadi tanpa rangsangan panca indera.
g. Keadaan emosi: dalam keadaan tertentu, seseorang bisa terpengaruh emosinya. Seperti misalnya, berkeringat, tidak mau makan, suka mengeluh, gelsah dan sebagainya.

10.7. Usaha-Usaha Penyembuhan Ketidakpastian
Untuk mengatasi ketidakpastian, ada baiknya penderita yang tidak dapat berpikir dengan baik dibawa ke psikolog. Bila penyebabnya jelas, seperti misalnya karena rindu, maka orang tersebut sebaiknya dipertemukan kepada orang yang dirindukan. Phobia, bisa saja penderita dilatih sedidit-demi sedikit agar tidak takut lagi. Orang yang sombong atau angkuh bisa saja berubah apabila ada musibah, namun bisa saja tidak. Mereka bisa sembuh apabil aada pengalaman.

Salah satu ayat Al-quran dalam mengatasi ketidakpastian adalah: “Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar”.

Referensi:
Aisyahtyasmaharani. 2013. Mengatasi Ketidakpastian. http://aisyahtyasmaharani.wordpress.com/2013/12/05/mengatasi-ketidakpastian/. diakses 04 Januari 2014 pada 0:10.
Nugroho, Widyo dan Achmad Muchji. 1996. Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: Gunadarma.
Yunita, Eka. 2012. MANUSIA DAN KEGELISAHAN. http://eka-yunita-ekayunita.blogspot.com/2012/06/manusia-dan-harapan.html. diakses 04 Januari 2014 pada 0:03.

Bab 9: Manusia dan Tanggung Jawab

9.1. Pengertian Tanggung Jawab
Tanggung jawab adalah kesadaran manusia akan perbuatannya yang disengaja maupun tidak disengaja. Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, tanggung jawab adalah keadaan wajib menanggung segala sesuatunya.

Seseorang mau bertanggung jawab karena ada kesadaran atas segala perbuatan dan akibtnya bagi pihak lain. Tanggung jawab bersifat kodrati, artinya sudah menjadi bagian dari manusia. Setiap manusia sudah dibebani dengan tanggung jawab. Tanggung jawab dapat dilihat dari dua sisi. Dari sisi si pembuat, ia harus menyadari akibat perbuatannya. Dari sisi pihak lain, apabila si pembuat tidak mau bertanggung jawab, pihak lain yang akan memulihkannya.

9.2. Macam-macam Tanggung jawab
Menurut keadaan manusia atau hubungann yang dibuatnya, terdapat beberapa jenis tanggung jawab.

1. Tanggung jawab terhadap diri sendiri
Tanggung jawab terhaddap diri sendiri menuntut kesadaran dari diri sendiri untuk memenuhi kewajibannya sendiri. Manusia memiliki pendapat, angan-angan sendiri dan perasaan sendiri dan berdasarkan hal-hal tersebut manusia bertindak. Dalam hal ini manusia tidak akan luput dari kesalahan dan kekeliruan baik disengaja maupun tidak.
Contoh: Rudi tahu besok akan ada ulangan namun ia tidak belajar dan lebih memilih bermain. Akibatnya ia tidak bisa mengerjakan soal-soal ulangan. Sebagai konsekuesinya ia mendapat nilai yang jelek dan harus mengulang untuk memperbaiki nilainya itu.

2. Tanggung jawab terhadap keluarga
Tanggung jawab ini menyangkut nama baik keluarga. Tanggung jawab ini juga merupakan kesejahteraan, keselamatan, pendidikan, dan kehidupan.
Contoh: seorang Ibu telah dikaruniai tiga anak, kemudian suaminya meninggal dunia. Karena tidak punya pekerjaan, maka demi rasa tanggung jawab terhadap keluarga, ia melacurkan diri.
Dari segi moral hal ini tidak bisa diterima. Namun, dari segi taggung jawab, ia termasuk orang yang terpuji karena ia berusaha memenuhi tanggung jawabnya terhadap keluarga, ia rela berkorban menjadi manusia yang hina dan dikutuk.

3. Tanggung jawab terhadap masyarakat.
Manusia tidak bisa hidup sendiri, sehingga manusia perlu berkomunikasi dan berhubungan dengan anggota masyarakat. Dengan demikian manusia sebagai anggota masyarakat memiliki tanggung jawab agar dapat melangsungkan hidupnya di masyarakat tersebut.
Contoh: Hanafi adalah seorang sangat congkak dan sombong. Ia mengejek dan menghina pakaian adat Minangkabau. Ketika akan menikah, dengan paksaan dan ancaman dari pihak peniring ia terpaksa memakai pakaian adat Minangkabau. Akibatnya, masyarakat Minangkabau menjadi tidak menghormati dan bersikap antipati padanya.

4. Tanggung jawab kepada Bangsa dan Negara
Tiap individu adalah warga negara, maka setiap individu perlu menyadari bahwa dalam berpikir, berbuat, bertindak, dan bertingkah laku, manusia terikat dengan norma-norma yang dibuat oleh negara.
Contoh: seorang ayah terpaksa mencuri karena ia perlu memenuhi kebutuhan keluarganya. Ia akhirnya berurusan dengan pihak kepolisian akibat perbbuatannya tersebut.

5. Tanggung Jawab terhadap Tuhan
Tuhan menciptakan dunia ini dan manusia memiliki tangung jawab kepada Tuhan untuk mengisi kehidupan di dunia yang telah Ia ciptakan. Apabila manusia tidak memenuhi tanggung jawabnya, manusia akan menerima hukuman.
Contoh: seorang Biarawati dengan ikhlas tidak menikah selama hidupnya untuk memenuhi tanggung jawabnya sebagai Biarawati kepada Tuhan sesuai dengan hukum agamanya.

9.3. pengabdian dan Pengorbanan
1. Pengabdian
Pengabdian adalah perbuatan baik yang berupa pikiran, pendapat ataupun tenaga sebagai perwujudan kesetiaan, cinta, kasih dayang, hormat, atau satu ikatan dan semua itu dilakukan dengan ikhlas.
Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan, maka manusia wajib mengabdi pada Tuhan. Pengabdian berarti penyerahan diri pada Tuhan sepenuhnya sebagai wujud tanggung jawab pada Tuhan. Contoh paling menonjol adalah seperti pengabdian yang dilakukan oleh biarawan-biarawati. Mereka meninggalkan keluarganya dan tidak berkeluarga agar seluruh hidupnya dapat diabdikan pada Tuhan.

Selain pengabdian kepada Tuhan, manusia juga wajib mengabdi pada bangsa dan negara. Contohnya adalah pegawai negeri yang mau ditugaskan di tempat yang terpencil demi kepentingan masyarakat di tempat tersebut.

2. Pengorbanan
Pengorbanan dapat diartikan sebagai pemberian untuk menyatakan kebaktian. Sebenarnya tidak ada perbedaan yang jelas antara pengabdian dan pengorbanan. Pengorbanan dapat berupa pikiran, perasaan, bahkan dapat berupa jiwanya.
Pengorbanan merupakan akibat dari pengabdian. Pengabdian lebih banyak menunjuk kepada perbuatan sedangkan, pengorbanan lebih banyak menunjuk kepada pemberian sesuatu.

Contoh pengorbanan adalah ada pada novel Siti Nurbaya karya Marah Rusli. Di novel terdebut, Siti Nurbaya mengorbankan dirinya agar utang orang tuanya kepada Datuk Maringgih lunas. Ia bersedia menikah dengan Datuk Maringgih dengan perasaan yang berat meskipun ia sebenarnya telah mengikat janji dengan Syamsul Bahri, pemuda pujaannya. Demi pengabdian kepada orang tuanya, ia bersedia memutuskan hubungannya dengan Syamsul Bahri.

Referensi:
Nugroho, Widyo dan Achmad Muchji. 1996. Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: Gunadarma.

Bab 8: Manusia dan Pandangan Hidup

8.1. Pengertian pandangan hidup dan ideologi
Pandangan hidup adalah pendapat yang dijadikan pegangan, pedoman, arahan,dan petunjuk hidup di dunia. Sumber pandangan hidup terdiri atas tiga macam, yakni:
a. Pandangan hidup yang berasal dari agama yang mutlak kebenarannya.
b. Pandangan hidup yang berupa ideologi yang disesuaikan dengan kebudayaan dan norma yang terdapat pada negara tersebut.
c. Pandangan hidup hasil renungan yaitu pandangan hidup yang relatif kebenarannya.

Ideologi adalah pandangan hidup yang diterima oleh sekelompok orang sebagai pendukung suatu organisasi. Apabila organisasi tersebut adalah organisasi poitik maka ideologinya disebut ideologi politik. Jika organisasi itu adalah negara maka ideologinya disebut ideologi negara.

8.2. Cita-cita
Cita-cita adalah pandangan masa depan, merupakan pandangan hidup yang akan datang. Pada umumnya, cita-cita seperti garis linier yang makin lama makin tinggi. Dengan kata lain, cita-cita merupakan keinginan, harapan, dan tujuan manusia yang makin tinggi tingkatannya.

Contohnya adalah ketika seorang pedagang kecil ingin mengembangkan usahanya. Ia kemudian bekerja dengan keras dan teun sehingga pendapatannya cukup untuk ia simpan untuk mengembangkan usahanya menjadi usaha menengah. Ketika ia sudah bisa menjadi pedagang menengah, ia kembali berusaha dan bekerja dengan tekun dan akhirnya ia bisa menjadi seorang pedagang besar.

8.3. Kebajikan
Kebajikan atau kebaikan atau perbuatan yang mendatangkan kebaikan pada hakekatnya sama dengan perbuatan moral, perbuatan yang sesuai dengan norma-norma agama dan etika.

Kebajikan adalah perbuatan yang selaras dengan suara hati, suara hati masyarakat dan hukum Tuhan. Suara hati selalu membimbing manusia untuk berbuat baik. Suara hati masyarakat adalah kumpulan suara hati dari masyarakat yang juga menginginkan hal baik untuk kehidupan masyarakatnya.

Faktor-faktor yang menentukan tingkah laku manusia:
a. Faktor hereditas
Faktor hereditas bisa juga disebut faktor keturunan merupakan salah satu faktor penentu tingkah laku manusia karena adanya pengaruh bawaan genetik dari orang tua. Saudara yang sekandung bisa memiliki tingkah laku yang berbeda karena sel benih yang mengandung sangat banyak faktor penentu saling berkombinasi pada saat konsepsi sehingga menghasilkan banyak variasi termasuk tingkah laku. Mereka yang bersaudara juga juga memperlihatkan kecondongan ke arah rata-rata yaitu (prinsip regresi filial).
b. Faktor lingkungan
Limgkungan yang berpengaruh dalam pembentukan tingkah laku adalah lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat. Seseorang cenderung menganut orang yang lebih tua. Meskipun demikian, teman juga ikut andil dalam pengaruh tingkah laku. Selain itu, pemnbentukan kepribadian juga dipengaruhi oleh peralatan dalam linglungan tersebut. Oleh karena itu, pada umumnya anak-anak kota lebih terampil dibandingkan dengan anak-anak pedesaan, tetapi dalam hubungan bermasyarakat lebih-lebih yang berjenjabg, anak-anak dari daerah pedesaan lebih unggul.
c. Faktor pengalaman
Faktor pengalaman yang khas baik pengalaman pahit maupun manis mempengaruhi tingkah laku seseorang.

8.4. Usaha/ Perjuangan
Usaha/perjuangan adalah kerja keras untuk mewujudkan cita-cita. Kerja keras dapat dilakukan dengan otak/ilmu, dengan tenaga/jasmani, maupun keduanya.

Dalam Al-Quran surat Ar-Ra’du ayat 11, Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum, kecuali jika mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” Dari firman ini dinyatakan bahwa manusia perlu kerja keras untuk memperbaiki nasibnya sendiri.

8.5. Keyakinan atau Kepercayaan
Keyakinan atau kepercayaan adalah hal yang menjadi dasar pandangan hidup yang berasal dari akal atau kekuasaan Tuhan.
Menurut Prof. Dr. Harun Nasution, terdapat tiga aliran filsafat, yakni aliran naturalisme, aliran intelektualisme, dan aliran gabungan.

a. Aliran Naturalisme
Aliran dogmatis berisikan spekulasi, mungkin ada Tuhan, mungkin pula Tuhan itu tidak ada. Yang ada hanyalah keyakinan. Apabila kita yakin Tuhan itu ada, maka kita katakan Tuhan itu ada. Namun jika kita tidak percaya bahwa Tuhan ada, kita katakan yang ada adalah Natur.
Terdapat dua macam ajaran agama, yaitu:
1. Ajaran agama dogmatis, bersifat tetap, tidak berubah.
2. Ajaran agama dari pemuka agama yang bersifat dapat berubah sesuai dengan perkembangan jaman.

b. Aliran Intelektualisme
Dasar aliran ini adalah logika. Manusia menggunakan akal dan dengan akal manusia berpikir. Mana yang benar menurut akal itulah yang baik meskipun berlawanan dengan hati nurani

c. Aliran gabungan
Dasar aliran ini adalah kekuatan gaib dan akal. Apa yang benar menurut logika berpikirjuga dapat diterima oleh hati nurani.

8.6. Langkah-langkah berpandangan hidup yang baik
Langkah-langkah berpandangan hidup yang baik
a. Mengenal apa itu pandangan hidup
b. Mengerti pandangan hidup. Dengan mengerti pandangan hidup, ada kecenderungan untuk mengikuti apa yang ada di pandangan hidup itu.
c. Menghayati pandangan hidup. Dengan menghayati pandangan hidup, kita memperoleh pandangan yang tepatdan benar mengenai pandangan hidup itu sendiri. Kita harus bisa menerima suatu pandangan hisup.
d. Meyakini pandangan hidup merupakan suatu hal untuk cenderung mendapat kepastian sehingga dapat mencapai tujuan hidup.
e. Melakukan pengabdian merupakan suatu hal yang penting dalam menghayati dan meyakini sesuatu yang telah dibenarkan dan diterima dengan baik. Dengan mengabdi maka kita akan merasakan manfaatnya.
f. Mengamankan pandangan hidup yang telah kita miliki. Ini merupakan langkah terberat. Langkah ini membutuhkan iman yang teguh dan kebenaran dalam menanggulangi segala sesuatu demi tegakny pandangan hidup itu.

Referensi:
Nugroho, Widyo dan Achmad Muchji. 1996. Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: Gunadarma.

Bab 7: Manusia dan Keadilan

7.1. Pengertian keadilan
Keadilan secara umum dapat dikatakan sebagai pengakuan dan perlakuan yang seimbang antara hak dan kewajiban. Kita diminta untuk tidak hanya menuntut hak kita tetapi juga menyadari bahwa kita juga memiliki keweajiban agar kita bisa mendapatkan hak kita tersebut. Contoh keadilan adalah peusahaan bersedia menaikkan upah ketika karyawannya bekerja lebih giat untuk meningkatkan prestasi.

7.2. Keadilan Sosial

    Sila kelima dari Pancasila yang berbunyi “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” memang berhubungan dengan keadilan sosial. Dalam dokumen lahirnya Pancasila, Bung karno mengusulkan adanya prinsip kesejahteraan sebagai salah satu dasar negara. Dari prinsip tersebut kemudian lahir prinsip tidak ada kemiskinan di dalam Indonesia merdeka. Di sini nampak adanya pembauran pengertian kesejahteraan dan keadilan.

    Kemudian Bung Hatta menuliskan uraiannya mengenai sila kelima yaitu, “Keadilan sosial adalah langkah yang menentukan untuk melaksanakan Indonesia yang adil dan makmur”.

    Untuk mewujudkan keadilan sosia, diperinci mengenai perbuatan dan sikap yang perlu dipupuk sebagai berikut:
    a. Perbuatan luhur yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotong-royongan.
    b. Sikap adil terhadap sesama,menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban, serta menghormati hak orang lain.
    c. Sikap suka memberi pertolongan pada mereka yang memerlukan.
    d. Sikap suka bekerja keras.
    e. Sikap menghargai karya orang lain yang bermanfaat untuk mencapai kemajuan dan kesejahteraan bersama.

    Asas yang menuju dan terciptanya keadilan sosial itu dituangkan dalam berbagai langkah dan kegiatan, antara lain melalui delapan jalur pemerataan:
    a. Pemerataan pemenuhan kebiutuhan pokok rakyat khususnya kebutuhan sandang, pangan, dan papan.
    b. Pemerataa pemerolehan pendidikan dan pelayanan kesehatan.
    c. Pemerataan pembagian pendapatan.
    d. Pemerataan kesempatan kerja.
    e. Pemerataan kesempatan bekerja.
    f. Pemerataan kesempatan berpartisipasi dalam pembangunan khususnya bagi generasi muda dan kaum wanita.
    g. Pemerataan penyebarab pembangunan di seluruh tanah air.
    h. Pemerataan kesempatan memperoleh keadilan.

    7.3. Berbagai Macam Keadilan
    1. Keadilan Legal atau Keadilan Moral
    Plato berpendapat bahwa keadilan dan hukum merupakan substansi rohani umum dari masuarakat yang membuat dan menjaga kesatuannya. Dalam suatu masyarakat yang adil, tiap orang melakukan apa yang mnurut sifat dasarnya paling cocok. Plato menyebutnya keadilan moral sedangkan, Sutono menyebautnya keadilan legal.
    Keadilan timbul apabila ada penyatuan dan penyesuaian untuk memberi tempat yang selaras kepada bagian-bagian yang membentuk suatu masyarakat. Keadilan akan terwujud apabila setiap anggota masyarakat melaksanakan fungsinya secara baik menurut kemampuannya. Fungsi penguasa ialah membagi-bagikan fungsi ke dalam negara kepada masing-masing orang sesuai dengan keserasiannya. Ketidak adlian terjadi apabila ada campur tangan pihak lain terhadap pelaksanaan tugas yang selaras sebab hal tersebut akan menciptakan ketidak serasian dan pertentangan.

    2. Keadilan Distributif
    Menurut Aristoteles, keadilan akan terlaksana apabila hal-hal yang sama diperlakukan secara sama dan hal-hal yang tidak sama diperlakukan secara tidak sama pula (justice is done when equals are treated equally).

    3. Keadilan Komutatif
    Keadilan ini bertujuan untuk memelihara ketertiban masyarakat dan kesejahteraan umum. Bagi Aristoteles, pengertian keadilan merupakan asas pertalian dan ketertiban dalam masyarakat. Apabila ada tindakan yang bercorak ekstrim maka akan menjadi ketidakadilan dan akan merusak pertalian dalam masyarakat.

    7.4. Kejujuran
    Kejujuran atau jujur artinya apa yang dikatakan sesuai dengan hati nurani dan kenyataan yang ada. Jujur juga berarti menepati janji atau kesanggupan yang terlampir melalui kata-kata ataupun yang masih terkandung dalam hati nuraninya berupa kehendak, harapan, dan niat.

    Pada hakekatnya, jujur atau kejujuran dilandasi oleh kesadaran moral yang tinggi, kesadaran pengakuan akan adanya hak dan kewajiban yang sama, dan rasa takut terhadap kealahan atau dosa.

    7.5. Kecurangan
    Kecurangan identik dengan ketidakjujuran. Kecurangan artinya apa yang diinginkan tidak sesuai dengan hati nuraninya. Atau, orang tersebut memang dari hati nuraninya sudah berniat curang dengan maksud ingin memperoleh keuntungan tanpa tenaga dan usaha dengan cara yang tidak wajar.

    Sebab-sebab kecurangan dilakukan, apabila ditinjau dari hubungan manusia dengan alam sekitarnya ada empat aspek yaitu aspek ekonomi, aspek kebudayaan, aspek peradaban, dan aspek teknik. Apabila keempat aspek tersebut sudah dijalankan dengan wajar, maka segalanya akan sesuai dengan norma moral dan hukum. Namun apabila manusia dalam hatinya berjiwa tamak, iri, dengki maka manusia akan melakukan perbuatan di luar norma dan berbuat curang.

    7.7. Pemulihan Nama Baik
    Nama baik adalah nama yang tidak tercela. Nama baik memiliki nilai yang sangat besar, maka dari itu setiap orang berusaha menjaga nama baiknya. Terlebih lagi apabila ia adalah orang yang menjadi teladan bagi orang di sekitarnya. Ini merupakan suatu kebanggan batik yang tak ternilai harganya.

    Pada hakekatnya, pemulihan nama baik adalah kesadaran manusia akan segala kesalahannya, bahwa apa yang diperbuatnya tidak sesuai dengan ukuran moral atau akhlak.

    7.8. Pembalasan
    Pembalasan ialah suatu reaksi yang diberikan atas perbuatan orang lain. reaksi tersebut dapat berupa perbuatan yang serupa. Pembalasan disebabkan oleh adanya pergaulan. Pergaulan yang bersahabat mendapat balasan yang bersahabat pula. Sebaliknya, apabila pergaulan penuh dengan kecurigaan akan menimbulkan pergaulan yang tidak bersahabat. Dalam bergaul manusia harus mematuhi norma-norma untuk mewujudkan moral.
    Karena setiap orang tidak menghendaki hak dan kewajibannya dilanggar, maka manusia perlu mempertahankannya. Ini adalah pembalasan.

    Referensi:
    Nugroho, Widyo dan Achmad Muchji. 1996. Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: Gunadarma.