Kesehatan Mental: Pengertian, Konsep, dan Sejarah

Kesehatan Mental (mental health) terkait dengan:

  • Bagaimana kita memikirkan, merasakan, dan melakukan berbagai situasi kehidupan yang kita hadapi sehari-hari.
  • Bagaiman kita memandang diri sendiri, kehidupan sendiri, dan kehidupan orang lain
  • Bagaimana kita mengevaluasi berbagai alternatif dan mengambil keputusan

Pengertian kesehatan mental

Ada beberapa pengertian yang diungkapkan mengenai kesehatan mental, diantaranya:

  1. Zakiyah Drajat (1975) menyatakan kesehatan mental adalah “terwujudnya keharmonisan yang sungguh-sungguh antara fungdi jiwa, serta mempunyai kesanggupan untuk menghadapi problem-problem biasa yng terjadi dan merasakan secara positif kebahagiaan dan kemampuan dirinya.
  2. Menurut Syamsu Yusuf (2004) kesehatan mental adalah suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual, emosi yang optimal dari seseorang dan perkembangan itu selaras dengan perkembangan orang lain.

Konsep Sehat

Menurut WHO, kesehatan adalah kondisi dinamis yang meliputi kesehatan jasmani, rohani, sosial dan tidakhanya terbebas dari penyakit, cacat dan kelemahan. Sehat secara fisik adalah orang tersebut tidak memiliki gangguan apapun secara klinis. Sehat secara mental adalah sehatnya pikiran, emosi, dan spiritual seseorang.

Kesehatan bisa merujuk pada keadaan kemampuan dan kebugaran saat ini. Kesehatan bisa memiliki arti berbeda bagi tiap orang dalam latar belakang yang berbeda, setiap individu memiliki pengertian yang berbeda mengenai kesehatan tergantung pada keadaannya.

Sejarah Kesehatan Mental

  1. Masa Prasejarah: Perilaku abnormal dianggap sebagai akibat dari kerasukan iblis

Pada masa prasejarah, perilaku abnormal dianggap sebagai akibat dari kerasukan roh jahat atau iblis. Para arkeologis sempat menemukan tengkorak dengan lubang yang dibuat oleh manusia dan ada bukti bahwa lubang itu sembuh. Diperkirakan lubang yang dibuat di tengkorak ini dibuat untuk membebaskan roh jahat yang terperangkap dalam kepala atau prosedur medis. Arkeologis kemudian bertanya-tanya apakah prosedur yang disebut trephining ini sempat dilakukan di masa prasejarah.

Selain dengan membuat lubang pada tengkorak, pada masa prasejarah cara untuk menyembuhkan perilaku abnormal adalah melalui ritual pengusiran roh jahat. Namun, seringkali cara ini justru menyiksa karena bisa terjadi kelaparan dan diperlakukan dengan cara yang ekstrem.

  1. Masa Yunani kuno dan Romawi kuno: awal dari model ilmu pengetahuan

Seorang filsuf Yunani, Hippocrates membangun pondasi awal bagi pendekatan sistematis mengenai gangguan mental. Ia –yang juga merupakan Bapak Kesehatan Modern- menyatakan ada empat cairan tubuh yang mempengaruhi fungsi kesehatan fisik dan mental. Misalnya apabila seseorang memiliki terlalu banyak empedu hitam maka ia adalah orang cenderung atau mudah depresi (pribadi melankolis). Penanganannya adalah dengan cara mengatur asupan makanan dan gizi, purging (ekskresi yang dipaksakan), dan pendarahan yang disengaja.

Klasifikasi dari Hippocrates ini kemudian dikembangkan kembali oleh Hans Eysenck melalui tes psikologi yang menentukan disposisi kepribadian setiap orang.

Diagram Kepribadian Eysenck yang merupakan pengembangan dari teori Hippocrates

Diagram Kepribadian Eysenck yang merupakan pengembangan dari teori Hippocrates

Pandangan Hippocrates ini telah mendominasi pandangan medis mengenai kelainan psikologis selama 500 tahun.  Kemudian pada abad pertama sebelum masehi, Aesclepiades membantah pendapat Hoppocrates dan menyatakan gangguan emosi bisa menyebabkan masalah psikologis. 200 tahun kemudian Claudius Galen membangun sistem pengetahuan medis yang merevolusi pandangan sebelumnya mengenai kelainan fisik dan psikologi. Ia mempelajari anatomi tubuh manusia. Dengan demikian, Hippocrates dan Galen telah membangun dasar bagi model ilmu pengetahuan mengenai perilaku yang abnormal.

  1. Abad Pertengahan dan Renaissance: kebangkitan kembali penjelasan spiritual

Pada masa ini, orang-orang mulai kembali mencari penjelasan terhadap kelainan fisik maupun mental dengan penjelasan spiritual, alchemy, maupun astrologi. Mereka yang berperilaku abnormal biasanya dianggap kerasukan roh jahat, diperlakukan seperti pendosa, penyihir, dan diberi resep yang tidak berguna. Saat itu, pemikiran religius mendominasi. Hal positifnya, para biarawan-biarawati mulai peduli, merawat, dan menampung mereka yang kemampuan ekonominya dibawah rata-rata, begitu pula yang mengalami gangguan emosi. Rumah-rumah yang menampung dan merawat orang-orang tersebut kemudian dinamakan asylum. Saat itu yang paling terkenal adalah Hospital of St. Mary of Betlehem di London. Awalnya, rumah sakit ini digunakan untuk mereka yang tidak mampu, kemudian digunakan untuk merawat “orang gila”. Karena semakin banyak yang masuk, para pengurusnya mulai menggunakan cara yang tidak manusiawi untuk mengendalikan penghuninya.

Perawatan tidak manusiawi di Rumah Sakit St. Mary of Betlehem, dilukiskan oleh William Hogarth, The Madhouse

Perawatan tidak manusiawi di Rumah Sakit St. Mary of Betlehem, dilukiskan oleh William Hogarth, The Madhouse

Pada masa Renaissance, mereka yang memiliki gangguan ditangani dengan deportasi, penyiksaan, dan pembakaran. Ini karena adanya anggapan banhwa gangguan mental adalah sebagai akibat dari kerasukan roh jahat dan bagaimana caranya untuk menyucikannya agar tidak “menodai“ agama.

Gangguan perilaku bisa dianggap sebagai penyihir, sasaran utamanya adalah wanita janda.

Gangguan perilaku bisa dianggap sebagai penyihir, sasaran utamanya adalah wanita janda.

Pada tahun 1563 seorang ahli bernama Johann Weyer menulis buku yang berjudul The Deception of Demons yang isinya berusaha melawan anggapan bahwa gangguan psikologis merupakan akibat dari roh jahat. Tentu saja tulisannya ini menimbulkan perlawanan karena pada masa itu, gangguan fisik maupun psikologis memang dianggap sebagai akibat dari roh jahat.

  1. Eropa dan Amerika di tahun 1700-an: pergerakan reformasi

Pada abad ke-18, Eropa mengalami reformasi sosial dan politik. Saat itu, institusi publik untuk orang dengan gangguan psikologis memprlakukan pasiennya seakan mereka adalah hewan. Mereka ditempatkan di tempat yang gelap, kotor, dan dikelilingi oleh kotoran mereka sendiri.

Vincenzo Chiarugi merupakan orang yang mengawali reformasi. Setelah lulus dan bekerja di sebuah rumah sakit di Florence, ia membuat kebijakan-kebijakan baru dalam kurun waktu setahun. Kebijakannya antara lain adanya rekaman pasien, standar kebersihan yang tinggi, dan menghormati mereka. Di tahun 1793-1794 ia menerbitkan buku mengenai klasifikasi kegilaan sebagai akibat dari kerusakan otak.

Di Paris, Philippe Pinel menemukan keadaan yang tidak jauh berbeda dengan yang ditemukan oleh Chiarugi di rumah sakit, La Bicêtre. Ia bersama seorang ahli yang bekerja di sana, Jean-Baptiste Pussin membuat perubahan.

Pada tahun 1792, di Inggris William Tuke membangun sebuah institusi berdasarkan pada prinsip agama yang manusiawi.

Di Amerika, Benjamin Rush yang juga merupakan pendiri American Psychiatry dan juga salah satu penandatangan Declaration of Independence dan menjadi terkenal karenanya, mampu memberi pengaruh besar pada masyarakat untuk meningkatkan kepedulian terhadap pasien dengan gangguan psikologis.

Meskipun demikian, Rush memperkenalkan pula cara penanganan pasien gangguan jiwa yang saat ini pasti dinilai tidak manusiawi. Cara tersebut adalah dengan menggunakan sebuah kursi dimana pasien diikat, tujuannya adalah untuk mengurangi sirkulasi darah ke otak.

Metode penyembuhan yang oleh Benjamin Rush

Metode penyembuhan yang oleh Benjamin Rush

Sayangnya 30 tahun kemudian, keadaan perawatan kembali memburuk karena terlalu banyak yang memerlukannya.

Kemudian seorang guru sekolah asal Boston bernama Dorothea Dix menemukan pula keadaan yang tidak manusiawi ini. Ia mulai mengkampanyekan perawatan yang lebih pantas terhadap para penderita gangguan ini. Sayangnya akbat terlalu penuh, perawatan kembali memburuk seperti sebelumnya. Meskipun demikian, ada beberapa reformasi seperti memperbolehkan pasien untuk bekerja di lingkungan. Ajaran Dorothea Dix mengenai terapi moral, meskipun tidak dapat menyembuhkan pasien tetapi telah membantu memperbaiki keadaan di sejumlah institusi perawatan orang dengan gangguan mental.

Dorothea Dix

Dorothea Dix

  1. Tahun 1800-1900-an: Perkembangan Model Alternatif untuk Perilaku Abnormal

Pada tahun 1844, 13 administrator dari 13 rumah sakit jiwa mebentuk Assosiation of Medical Superintendents of American Institutions for the Insane yan gkemudian berubah menjadi American Psychiatric Association. Tujuannya adalah untuk mencari penjelasan medis mengenai perilaku abnormal.

Seorang ahli asal Wina, Anton Mesmer memperkenalkan teknik yang dapat dilakukan dalam kelompok dengan menggunakan air, yang diisi logam dan partikel kaca dan ia berjalan mengelelilingi mereka sambil menekan mereka dengan tongkat magnetik. Banyak yang mengatakan ini berhasil, meskipun penelitian menyatakan sebaliknya, pasien hanya merasa sembuh tapi sebenarnya tidak benar-benar sembuh. Ahli asal Inggris, James Braid, kemudian  menyimpulkan bahwa ini terkait dengan perubahan alam pikiran manusia. ia lalu memperkenalkan istilah hipnotisme yang mendeskripsikan keadaan seseorang dalam trance. Kemudian Jean-Martin Charcot mengenalkan dan mengembagkan teknik hipnosis.

Hipnosis inilah yang memperngaruhi karya Sigmund Freud dalam awal karirnya ketika ia menangani pasien dengan histeria.

  1. Abad 21: Tantangan untuk menyediakan perawatan yang efektif dan manusiawi

Pada tahun 1950an, para peneliti menemukan obat yang akhirnya digunakan dalam pengobatan bagi orang yang memiliki gangguan jiwa. Namun sayangnya, perawatan dengan obat-obatan ini seringkali menimbulkan efek samping. Sampai tahun 1970an, meskipun pengetahuan mengenai perilaku abnormal semakin berkembang tapi masih saja ada institusi yang memperlakukan pasien seperti ketika masa abad pertengahan. Kemudian muncul kesadaran untuk melakukan suatu perubahan, salah satunya yang dilakukan adalah deinstitutionalization movement. Ini adalah suatu gerakan untuk membebaskan orang dengan gangguan jiwa dari institusi tempatnya berada.

Sayangnya cara ini dinilai tidak berhasil dan terlalu terburu-buru. Ini karena pada akhirnya, para pasien yang dibebaskan tidak bisa hidup dengan layak. Ada pula suatu metode yang disebut dengan Assertive Community Treatment, dimana petugas sosial, psikiater, psikolog atau perawat akan mengunjungi klien di rumah atau tempat kerja mereka.

Saat ini dan di masa yang akan datang, manusia akan terus mencari cara untuk menemukan cara yang pantas dan seimbang untuk mereka yang mengalami gangguan jiwa. Sementara itu, para ilmuwan akan terus mencari penyebab dan cara penanganan yang paling tepat.

Perbedaan Kesehatan Mental Barat dan Timur

Pada budaya timur, terutama budaya Asia, gangguan mental sering dipandang sebagai suatu hal yang memalukan bagi keluarga. Ini karena banyak budaya Asia yang memberi nilai pada konformitas terhadap norma, pengendalian emosi, dan penerimaan keluarga melalui keberhasilan. Kebanyakan dari budaya Asia akan menyembunyikan orang yang menderita gangguan mental. Pada budaya barat, gangguan mental bisa diterima, meskipun ada perasaan kurang nyaman untuk mencari bantuan.


Referensi

Abdullah, T., Brown, T.L. (2011). Mental Illness Stigma and Ethnocultural Beliefs, Values, and Norms: An Integrative Review. Clinical Psychology Review, 31: 934-948.

Halgin, Richard. P., dan Susan Krauss Whitbourne. (2010). Abnormal Psychology: Clinical perspectives on Psychological Disorders (6th Ed.). New York: McGraw-Hill.

Herman, Helen., Saxena Shekhar., dan Rob Moodie (Eds.). Promoting Mental Health. Concepts. Emerging Evidence. Practice. America: World Health Organization.

Mehraby, Nooria. (2009). vol 15, no 2. Posssessed or Crazy? Mental Illness Across Cultures. Psychotherapy in Australia, 15 (No. 2).

Subekti, Sri. Bab I: Konsep Dasar Kesehatan dan Ilmu Penyakit [pdf]. http://file.upi.edu/Direktori/FPTK/JUR._PEND._KESEJAHTERAAN_KELUARGA/195909281985032-SRI_SUBEKTI/bahan_ajar_BAB_I_kes_n_ilmu_penyakit.pdf. (Diakses pada 28 Maret pukul 20:30).

Yusuf, Syamsu. (2004). Mental Hygiene: Pengembangan Kesehatan Mental dalam Kajian Psikologi dan Agama. Bandung: Pustaka Bani Quraisy.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s